Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Sosok Pius Lustrilanang Anggota BPK RI Dikukuhkan Jadi Profesor Kehormatan Unsoed,Ini Rekam Jejaknya

[AURABERKAH.INFO] - Nama Pius Lustrilanang tengah menjadi perbincangan publik.

Hal itu lantaran  Pius Lustrilanang baru saja dikukuhkan menjadi guru besar atau profesor kehormatan Ilmu Manajemen Pemerintah Daerah dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed).

Diketahui, pengukuhan tersebut dilakukan pada Sidang Senat Terbuka Unsoed di Graha Widyatama Prof Rubijanto Misman, Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (8/9/2023).

Kini gelar akademiknya menjadi Prof Dr Pius Lustilanang SIP, MSI, CSFA, CFrA.

Tengah menjadi perbincangan, lantas bagaimanakah sosok Pius Lustrilanang?

Pius Lustrilana lahir pada 10 Oktober 1968.

Ia merupakan seorang aktivis dan politisi Indonesia.

Kini, Pius Lustrilanang adalah anggota VI Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

Pius juga dikenal sebagai aktivis asal Palmebang dan politikus Partai Gerindra.

Dilansir dari berbagai sumber, Pius Lustrilanang menempuh sekolah menengah di Yogyakarta dan tamat pada tahun 1987.

Ketertarikannya pada ilmu politik membawanya meneruskan studi ke jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Parahyangan.

Ayah Pius adalah seorang guru besar Fakultas Teknik Kimia di Universitas Sriwijaya, Palembang.

Selama kuliah, Pius tidak hanya mengejar gelar akademik saja.

Melalui dunia kampus, Pius bertemu dengan kawan-kawan seorganisasi yang tepat dan bisa menyalurkan bakat kritis Pius dengan baik.

Ia bersama kawan-kawannya pun terlibat dalam kegiatan advokasi membela elemen masyarakat kecil yang tertindas.

Pius pernah membela para petani di Badega, Jawa Barat.

Ia pun mendapatkan pengalaman pertamanya merasakan praktik kekerasan oleh aparat.

Pius juga terlibat dalam demonstrasi mendukung Megawati atau yang lebih dikenal dengan kasus 27 Juli di Bandung.

Pada saat itu ia mendapatkan "hadiah" kekerasa aparat berupa luka memar di 14 titik di tubuhnya.

Pada tahun 1998, kasus penculikan dan penghilangan aktivis yang melibatkan dirinya adalah kasus kekerasan aparat paling kejam yang pernah Pius alami.

Setelah merasa perjuangannya menang melawan kediktatoran Soeharto, ia lalu meniti karier di bidang politik.

Beberapa partai politik pernah menjadi tempat persinggahannya.

Bahkan dia sempat menginisiasi berdirinya beberapa partai baru, walaupun akhirnya parta-partai tersebut tak lolos verifikasi untuk menjadi peserta Pemilu.

Dari beberapa parpol yang pernah menampung Pius, yang paling mengejutkan publik adalah keputusannya untuk bergabung bersama Gerindra.

Seperti yang diketahui, Gerindra adalah parpol bikinan Prabowo Subianto, mantan anggota Koppasus yang ada hubungannya dengan Tim Mawar, tim penculik Pius dan kawan-kawan.

Bahkan langkah Pius juga diikuti oleh korban penculikan lain seperti Haryanto Taslam, Desmond Junaidi Mahesa dan Aan Rusdianto.

Penjelasan Pius atas sikap yang dianggap aneh itu adalah bahwa dari sekian banyak partai yang berusaha ia masuki atau ia bentuk, hanya dengan Gerindra ia merasa ada chemistry.

Ia juga berpendapat jika Gerindra punya semua syarat untuk menjadi besar.

Untuk soal Prabowo, secara personal Pius tak menganggap ia terlibat kasus penculikan.

Baginya, otak intelektual paling berdosa dari penculikan dan penghilangan aktivis tetap lah si penguasa 32 tahun Orba berkuasa: Jenderal Soeharto.

Riwayat Pendidikan

S3 Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya (2018)

S2 Ilmu Kepolisian, Univeristas Indonesia (2006)

S1 Hubungan Internasional, Universitas Parahyangan (1995)

SMA Kolose De Britto, Yogyakarta

Riwayat Jabatan

Anggota VI BPK RI (April 2022 s.d. sekarang).

Anggota II BPK RI (Oktober 2019 s.d. April 2022).

Anggota DPR RI (2014 s.d 2019).

Anggota DPR RI (2009 s.d. 2014).

Direktur Utama PT Brigas Lustrilanang Security (2000 s.d. sekarang).

Staf pada Institut Study Arus Informasi, Jakarta (1997 s.d. 2000).

Yayasan Akar Rumput, Bandung (1996 s.d. 1997).

Sumber

0 Comments:

Posting Komentar